Yang Dimaksud Pengertian Nilai Susila Berdasarkan Max Scheler
Nilai ialah kualitas atau sifat yang menciptakan apa yang bernilai jadi bernilai. Apa yang bernilai ialah tindakan atau korelasi sebuah keny...

https://tutorialcarapintar.blogspot.com/2019/02/yang-dimaksud-pengertian-nilai-susila.html
Masih ada pembawa nilai lainnya, yaitu tindakan (tindakan memahami, mencintai, membenci, dan menginginkan), fungsi (pendengaran, penglihatan), dan jawaban atau reaksi (bergembira akan sesuatu). Pembawa nilai yang terakhir ini juga memuat jawaban terhadap pribadi manusia, menyerupai ikut merasakan, balas dendam, yang berbeda dengan tindakan spontan. Ketiga pembawa nilai ini termasuk dalam nilai pribadi. Ketigannya mempunyai korelasi hierarkis (bertingkat). Nilai tindakan lebih tinggi dari pada nilai fungsi, dan kedua nilai ini lebih tinggi dari pada nilai tanggapan.
Karena seluruh nilai intinya berada dalam suatu susunan hierarki (tingkatan), yaitu berada dalam korelasi satu sama lain sebagai sebagai yang lebih tinggi atau lebih rendah, dan lantaran hubungan-hubungan ini sanggup dipahami hanya dalam tindakan preferensi atau tindakan penolakan, maka perasaan akan nilai mempunyai dasarnya pada tindakan preferensi. Susunan tingkatan nilai tidak pernah sanggup diketahui didekdusikan atau dijabarkan secara logis. Nilai manakah lebih tinggi hanya sanggup diketahui melalui tindakan preferensi atau mendahulukan atau mengunggulkan atau tindakan meremehkan dengan menempatkan di tingkat lebih rendah.
Hierarki nilai terdiri dari empat tingkatan, yaitu;
1. Nilai Kesenangan.
Pada tingkat terendah, kita sanggup menemukan formasi nilai- nilai kesenangan dan nilai kesusahan, atau kenikmatan dan kepedihan. Tingkatan nilai ini berkaitan dengan fungsi dari perasaan inderawi, yaitu rasa nikmat dan rasa sakit atau pedih. Rumusan bahwa kesenangan lebih disukai dari pada ketidaksenangan tidak ditetapkan menurut pengamatan atau induksi (berdasarkan pengalaman empiris indrawi), tetapi merupakan apriori (pengalaman yang mendahului serta tidak menurut pada pengamatan empiris inderawi) dan sudah termuat dalam inti nilai tersebut. Secara apriori sanggup dipastikan bahwa setiap orang akan menentukan yang menyenangkan dari pada yang tidak menyenangkan.
2. Nilai Vitalitas Atau Kehidupan.
Yang terdiri dari nilai-nilai rasa kehidupan, meliputi yang luhur, halus, atau lembut sampai yang berangasan atau biasa, dan juga meliputi yang anggun (dalam arti istimewa) yang berlawanan dengan yang jelek. Nilai-nilai yang diturunkan dari tingkatan ini meliputi kesejahteraan pada umumnya, baik pribadi maupun komunitas. Keadaan yang terkait ialah kesehatan, vitalitas, penyakit, lanjut usia, lemah, dan rasa mendekati kematian. Nilai vitalitas menghadirkan perasaan yang sama sekali tidak tergantung, serta tidak sanggup direduksi atau dikembalikan baik pada tingkatan nilai yang lebih tinggi (nilai spiritual) atau pada yang tingkatan nilai yang lebih rendah (nilai kegunaan atau kesenangan).
3. Nilai-Nilai Spiritual
Yang mempunyai sifat tidak tergantung pada seluruh lingkungan badaniah serta lingkungan alam sekitar. Tingkatan nilai ini mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada nilai kehidupan sanggup terlihat dengan terperinci bahwa orang wajib untuk mengorbankan nilai vitalitas demi nilai spiritual ini. Kita menangkap spiritual dengan rasa spiritual dan dalam tindakan preferensi spiritual yaitu menyayangi dan membenci. Perasaan dan tindak spiritual berbeda dengan fungsi vital serta tidak sanggup direduksi atau dikembalikan pada tingkat biologis. Jenis pokok dari nilai spiritual adalah:
Karena seluruh nilai intinya berada dalam suatu susunan hierarki (tingkatan), yaitu berada dalam korelasi satu sama lain sebagai sebagai yang lebih tinggi atau lebih rendah, dan lantaran hubungan-hubungan ini sanggup dipahami hanya dalam tindakan preferensi atau tindakan penolakan, maka perasaan akan nilai mempunyai dasarnya pada tindakan preferensi. Susunan tingkatan nilai tidak pernah sanggup diketahui didekdusikan atau dijabarkan secara logis. Nilai manakah lebih tinggi hanya sanggup diketahui melalui tindakan preferensi atau mendahulukan atau mengunggulkan atau tindakan meremehkan dengan menempatkan di tingkat lebih rendah.
Hierarki nilai terdiri dari empat tingkatan, yaitu;
1. Nilai Kesenangan.
Pada tingkat terendah, kita sanggup menemukan formasi nilai- nilai kesenangan dan nilai kesusahan, atau kenikmatan dan kepedihan. Tingkatan nilai ini berkaitan dengan fungsi dari perasaan inderawi, yaitu rasa nikmat dan rasa sakit atau pedih. Rumusan bahwa kesenangan lebih disukai dari pada ketidaksenangan tidak ditetapkan menurut pengamatan atau induksi (berdasarkan pengalaman empiris indrawi), tetapi merupakan apriori (pengalaman yang mendahului serta tidak menurut pada pengamatan empiris inderawi) dan sudah termuat dalam inti nilai tersebut. Secara apriori sanggup dipastikan bahwa setiap orang akan menentukan yang menyenangkan dari pada yang tidak menyenangkan.
2. Nilai Vitalitas Atau Kehidupan.
Yang terdiri dari nilai-nilai rasa kehidupan, meliputi yang luhur, halus, atau lembut sampai yang berangasan atau biasa, dan juga meliputi yang anggun (dalam arti istimewa) yang berlawanan dengan yang jelek. Nilai-nilai yang diturunkan dari tingkatan ini meliputi kesejahteraan pada umumnya, baik pribadi maupun komunitas. Keadaan yang terkait ialah kesehatan, vitalitas, penyakit, lanjut usia, lemah, dan rasa mendekati kematian. Nilai vitalitas menghadirkan perasaan yang sama sekali tidak tergantung, serta tidak sanggup direduksi atau dikembalikan baik pada tingkatan nilai yang lebih tinggi (nilai spiritual) atau pada yang tingkatan nilai yang lebih rendah (nilai kegunaan atau kesenangan).
3. Nilai-Nilai Spiritual
Yang mempunyai sifat tidak tergantung pada seluruh lingkungan badaniah serta lingkungan alam sekitar. Tingkatan nilai ini mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada nilai kehidupan sanggup terlihat dengan terperinci bahwa orang wajib untuk mengorbankan nilai vitalitas demi nilai spiritual ini. Kita menangkap spiritual dengan rasa spiritual dan dalam tindakan preferensi spiritual yaitu menyayangi dan membenci. Perasaan dan tindak spiritual berbeda dengan fungsi vital serta tidak sanggup direduksi atau dikembalikan pada tingkat biologis. Jenis pokok dari nilai spiritual adalah:
a. Nilai Estetis, yang berkaitan dengan keindahan dan kejelekan
b. Nilai benar dan salah atau nilai adil dan tidak adil, yang merupaka dasar utama bagi bagi suatu tatanan hokum objektif; dan
c. Nilai dari pengetahuan murni demi dirinya sendiri, yang dicoba filsafat untuk diwujudkannya.
4. Nilai kesucian dan nilai keprofanan.
Nilai ini hanya tampak pada pada kita dalam objek yang dituju sebagai objek absolute. Tingkatan nilai kesucian ini tidak tergantung pada perbedaan waktu dan perbedaan orang yang membawannya. Keadaan perasaan yang berkaitan dengan nilai-nilai ini ialah rasa terberkati dan rasa putus impian yang secara terperinci harus dibedakan dengan sekedar rasa bahagia dan susah. Rasa terberkati dan putus impian mencerminkan serta mengukur pengalaman insan akan kedekatannya serta jaraknya dari yang suci. Tanggapan yang biasannya diberikan terhadap tongkatan nilai spiritual ini ialah beriman dan tidak beriman, kagum, memuji, dan menyembah. Tindakan yang terjadi dalam mencapai nilai kekudusan ialah suatu jenis cinta khusus yang secara hakikiterarah pada pribadi. Dengan demikian, tingkatan nilai ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi. Nilai-nilai turunannya ialah nilai-nilai barang dalam pemujaan sakramen dan bentuk-bentuk ibadat, sejauh terkait dengan pribadi yang dipuja.
Bagi Max Scheler, korelasi hierarkis nilai-nilai yang tersensun dari tingkat nilai kesenagan sampai nilai kekudusan bersifat apriori (sebagai yang memang adanya demikian semenjak awal sebelum ditemukan dan dialami manusia) dengan demikian mendahului setiap keterjalinan lainnya yang ada misalanya keterjalinan dalam pedoman dan pemanfaaatan yang dilakukan oleh insan ini sanggup diterapkan pada objek-objek bernilai yaitu pada nilai-nilai yang terwujud dalam objek-objek bersangkutan.
Keempat tingkatan nilai yang telah digambarkan diatas tidak memasukkan nilai moral baik dan jahat. Alasan Max Scheler ialah bahwa nilai-nilai moral berada yang berbeda pada segi yang berbeda. Nilai moral ditemukan dalam perwujudan nilai-nilai nonmoral. Nilai moral menempel pada tingkatan yang mewujudkan nilai-nilai lainya dalam tata tertip yang benar. Kebaikan moral ialah keinginan untuk mewujudkan nilai lebih tinggi atau nilai tertinggi, sedang kejahatan moral ialah menentukan nilai yang lebih rendah atau nilai yang terendah. Tindakan baik secara moral ialah tindakan mewujudkan nilai yang dimaksudkannya sebagai nilai yang lebih tinggi, serta menolak nilai yang lebih rendah. Sedankan tindakan jahat ialah tindakan yang menolak nilai yang lebih tinggi, dan mewujudkan nilai yang lebih rendah. Nilai moral baik tidak pernahmerupakan isi atau materi bagi tindakan untuk mewujudkan kehendak. Nilai baik tidak pernah dimaksud sebagai tujuan tindakan moral kita. Nilai ini hanya tampak di atas punggung tindakan lainnya yang mewujudkan nilai positif lebih tinggi.
Menurut Max Scheler, model merupakan rangsangan yang sangat efisien untuk kebaikan dan merupakan sumber yang sangat penting bagi perkembangan dan perubahan dalam bidang moral. Tidak suatu pun di dunia ini yang mendorongseorang person baik orsinal, eksklusif dan pasti, kecuali pengamatan yang penuh pengertian terhadap seorang person yang baik dalm kebaikannya. Seseorang dibuat dan dibangun dalam kebiasaan moral serta keberadaannya lebih dengan cara mengikuti suatu rujukan dari pada dengan mengikuti norma- norma.
b. Nilai benar dan salah atau nilai adil dan tidak adil, yang merupaka dasar utama bagi bagi suatu tatanan hokum objektif; dan
c. Nilai dari pengetahuan murni demi dirinya sendiri, yang dicoba filsafat untuk diwujudkannya.
4. Nilai kesucian dan nilai keprofanan.
Nilai ini hanya tampak pada pada kita dalam objek yang dituju sebagai objek absolute. Tingkatan nilai kesucian ini tidak tergantung pada perbedaan waktu dan perbedaan orang yang membawannya. Keadaan perasaan yang berkaitan dengan nilai-nilai ini ialah rasa terberkati dan rasa putus impian yang secara terperinci harus dibedakan dengan sekedar rasa bahagia dan susah. Rasa terberkati dan putus impian mencerminkan serta mengukur pengalaman insan akan kedekatannya serta jaraknya dari yang suci. Tanggapan yang biasannya diberikan terhadap tongkatan nilai spiritual ini ialah beriman dan tidak beriman, kagum, memuji, dan menyembah. Tindakan yang terjadi dalam mencapai nilai kekudusan ialah suatu jenis cinta khusus yang secara hakikiterarah pada pribadi. Dengan demikian, tingkatan nilai ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi. Nilai-nilai turunannya ialah nilai-nilai barang dalam pemujaan sakramen dan bentuk-bentuk ibadat, sejauh terkait dengan pribadi yang dipuja.
Bagi Max Scheler, korelasi hierarkis nilai-nilai yang tersensun dari tingkat nilai kesenagan sampai nilai kekudusan bersifat apriori (sebagai yang memang adanya demikian semenjak awal sebelum ditemukan dan dialami manusia) dengan demikian mendahului setiap keterjalinan lainnya yang ada misalanya keterjalinan dalam pedoman dan pemanfaaatan yang dilakukan oleh insan ini sanggup diterapkan pada objek-objek bernilai yaitu pada nilai-nilai yang terwujud dalam objek-objek bersangkutan.
Keempat tingkatan nilai yang telah digambarkan diatas tidak memasukkan nilai moral baik dan jahat. Alasan Max Scheler ialah bahwa nilai-nilai moral berada yang berbeda pada segi yang berbeda. Nilai moral ditemukan dalam perwujudan nilai-nilai nonmoral. Nilai moral menempel pada tingkatan yang mewujudkan nilai-nilai lainya dalam tata tertip yang benar. Kebaikan moral ialah keinginan untuk mewujudkan nilai lebih tinggi atau nilai tertinggi, sedang kejahatan moral ialah menentukan nilai yang lebih rendah atau nilai yang terendah. Tindakan baik secara moral ialah tindakan mewujudkan nilai yang dimaksudkannya sebagai nilai yang lebih tinggi, serta menolak nilai yang lebih rendah. Sedankan tindakan jahat ialah tindakan yang menolak nilai yang lebih tinggi, dan mewujudkan nilai yang lebih rendah. Nilai moral baik tidak pernahmerupakan isi atau materi bagi tindakan untuk mewujudkan kehendak. Nilai baik tidak pernah dimaksud sebagai tujuan tindakan moral kita. Nilai ini hanya tampak di atas punggung tindakan lainnya yang mewujudkan nilai positif lebih tinggi.
Menurut Max Scheler, model merupakan rangsangan yang sangat efisien untuk kebaikan dan merupakan sumber yang sangat penting bagi perkembangan dan perubahan dalam bidang moral. Tidak suatu pun di dunia ini yang mendorongseorang person baik orsinal, eksklusif dan pasti, kecuali pengamatan yang penuh pengertian terhadap seorang person yang baik dalm kebaikannya. Seseorang dibuat dan dibangun dalam kebiasaan moral serta keberadaannya lebih dengan cara mengikuti suatu rujukan dari pada dengan mengikuti norma- norma.